Keluarlah Ibu, Aku Akan Pergi






Rasa sakit di kepala ini semakin membuatku merasa tidak nyaman di tanah ibukota ini, aku merasa menjadi beban untuk teman-temanku, aku tidak bisa terus bekerja dan hanya terbaring di atas tempat tidur selama beberapa hari, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kampung halaman apapun yang terjadi.

Siang itu aku berpamitan kepada bos dan teman-teman di tempatku bekerja, aku pulang sendiri menaiki bus dengan sakit kepala yang terkadang masih aku rasakan di dalam perjalanan, dengan perjuangan menahan rasa sakit ini, aku sampai di rumah. Di rumah aku hanya bisa terbaring lemas di atas kasur kumal di dalam kamarku yang sudah lama aku tinggalkan karena aku memilih untuk pergi merantau mencari uang yang nantinya ingin aku berikan kepada orang tuaku. Seharian aku terbaring, dan keadaanku semakin parah saja, hampir pingsan karena rasa sakit yang aku rasakan waktu itu, akhirnya karena tak tega dengan keadaanku orang tuaku membawaku ke Rumah sakit terdekat agar aku mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Di dalam rumah sakit aku mulai diperiksa dan ternyata aku harus menginap di IGD karena menurut dokter keadaanku menghawatirkan. Sembari dokter memeriksa penyakit apa yang aku derita yang menyebabkan sakit kepala hebat didalam kepala, aku dirawat intensif di ruang IGD ditemani ibu dan saudarku yang menemaniku selalu. Tidak sampai satu hari disana rasanya aku sudah tidak bisa menahan rasa sakit ini, akan tetapi aku sungguh tidak tega melihat air mata dari ibuku yang terus mengalir melihat keadaanku ini, aku juga sempat meminta maaf karena tidak bisa menepati janji untuk memberikan uang hasil kerjaku selama di perantauan karena aku keburu terserang penyakit aneh ini, aku menyuruh ibuku keluar ruangan agar bisa beristirahat dan makan karena terlihat beliau lemas melihat keadaanku ini, setelah kupaksa akhirnya beliau mau keluar untuk mencari makan, dan saat ibuku keluar dari ruangan dimana aku dirawat, saat itu juga Tuhan memanggilku...

Cerita diatas adalah kisah tentang perjuangan saudara dan sahabatku, dia berjuang untuk pulang ke kampung halamannya dari Jakarta tempatnya bekerja, dia menahan rasa sakit hebat di kepala selama perjalanan dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit, ketika sebelumnya sudah meminta maaf kepada ibunya karena belum bisa menepati janji yang dulu pernah diucapkannya ketika berangkat bekerja ke tanah perantauan. Saat-saat terakhir menjelang ajalnya, dia tidak ingin ibunya melihat saat malaikat mencabut nyawanya sehingga menyuruh ibunya untuk keluar, dan saat itulah dia menghembuskan nafas terakhirnya, sebelum tahu penyakit apa yang dideritanya karena dokter masih menunggu hasil pemeriksaan.

Selamat jalan saudaraku, sahabatku, semoga engkau mendapat tempat terindah di sisi-Nya


Info Kesehatan Updated at: 00.24